468x60 Ads

1 2 7 5.jpg 3.jpg
Tampilkan postingan dengan label EDUKASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EDUKASI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 November 2013

Mahasiswa Wajib Tumbuhkan Semangat Berorganisasi

Mahasiswa Wajib Tumbuhkan Semangat Berorganisasi
Jum'at, 29 November 2013 18:42 wib

MAKASSAR - Fakultas Pertanian (FP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar telah memiliki berbagai program prioritas untuk menumbuhkan semangat berorganisasi di kalangan mahasiswa.

Wakil Dekan (WD) III Unismuh Burhanuddin meyakini program prioritas ini akan meningkatkan semangat mahasiswa untuk berorganisasi.


"Program utama FP Unismuh adalah menumbuhkembangkan semangat berorganisasi bagi mahasiswa pertanian sebagai salah satu metode dalam meredam konflik antarmahasiswa," kata Burhanuddin saat ditemui di ruang kerjanya, Gedung Al-Iqra Lantai 6, Kampus Unismuh Makassar, Jumat (29/11/2013).

Lebih lanjut, Burhanuddin menambahkan, mahasiswa perlu menumbuhkan semangat berorganisasi dalam dunia kampus melalui lembaga yang mendapat legalitas dari universitas. Dikatakan, lembaga seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bisa dijadikan sebagai wadah mengaktualisasikan wawasan keilmuwan bagi mahasiswa.

"Pembinaan mahasiswa untuk menggenjot semangat berorganisasi ini harus dimulai sejak pembinaan mahasiswa baru melalui orientasi pengkaderan yang dilakukan IMM Darul Arqam Dasar," sambung Burhanuddin.

Wakil Dekan (WD) III Unismuh mengimbuhkan, proses pembinaan kemahasiswaan harus sesuai dengan program universitas, sehingga terjadi sinergi antara ketiga pihak, yakni mahasiswa, fakultas, dan universitas.

Dijelaskan  program prioritas berorganisasi merupakan salah satu cara untuk melakukan pendekatan persuasif kepada mahasiswa dalam mengontrol setiap perkembangan dan  aktivitas lembaga mahasiswa.

"Mahasiswa pertanian harus diarahkan kepada pengetahuan dunia penelitian dan penguasaan karya tulis ilmiah," tandas Burhanuddin. (ade)




Guru Malaysia Mengajar Bahasa Indonesia di Australia

January 18, 2012

SURABAYA — Kebutuhan guru Bahasa Indonesia di Australia ternyata cukup tinggi. Hal ini terjadi karena semakin banyaknya warga, termasuk siswa di negeri Kanguru itu, yang tertarik mendalami bahasa Indonesia. Akan tetapi, ada fakta yang patut disayangkan. Ternyata, banyak guru bahasa Indonesia di Australia tidak seluruhnya diisi guru asli Indonesia. Justru, yang paling banyak mengajar bahasa Indonesia adalah orang Melayu, seperti Malaysia. 
“Ini eman (sayang). Masa guru bahasa Indonesia asli malah tidak ada. Kami akan mencari guru bahasa Indonesia untuk kita tawarkan ke sekolah-sekolah di Australia,” ujar Adji Arnowo dari Biro Kerjasama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Rabu (18/1).
Menurut Adji, fenomena ini menunjukkan bahwa peluang guru dari Indonesia untuk mengajarkan bahasa Indonesia di Australia semakin besar. Namun, Adji tak bisa menyalahkan Australia. Ia menduga, bisa jadi kebutuhan akan guru bahasa Indonesia sangat mendesak sehingga siapa pun yang mengajukan dan menguasai bahasa Indonesia Melayu tetap diterima.
Padahal, kata Adji, bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Melayu.
“Ini tantangan bagi kita semua. Tapi harus diakui, guru kita kurang tertantang, apalagi bila sudah berkeluarga. Lebih baik mengajar di kampungnya,” tambah Adji.
Adji kini tengah menjalin kerja sama dengan Bridge Australia-Indonesia untuk bermitra dengan Australia dalam bidang pendidikan. “Ada tawaran dari Melbourne. Disampaikan bahwa guru bahasa Indonesia di sana adalah berbahasa Melayu,” katanya.
Ke depannya akan ada sekolah partner Australia dengan Jawa Timur. Biro Kerjasama  Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mematangkan rencana pengiriman guru bahasa Indonesia ke Melbourne.
Sebelumnya, Project Manager Bridge Indonesia Donny Jatisambogo mengatakan, pada tahun 2012 ini, beberapa guru SD dan SMP di Surabaya akan kembali dikirim ke Australia. Mereka akan mengajarkan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Para guru yang dikirimkan harus lolos seleksi sebelum menjadi duta sisterschool bagi sekolahnya di luar negeri ini. Yang terpilih akan dikirim terlebih dahulu ke Australia selama tiga minggu agar memahami budaya Australia, saling mempelajari pembelajaran di sekolah, dan pendalaman bahasa Inggris.
“Kita perlu sisterschool yang terinstitusi dengan baik. Kami mencari guru di Surabaya untuk mengajar bahasa Indonesia di Australia. Semua dalam rangka peningkatan kemitraan Indonesia-Australia,” ujar Donny, Selasa (17/1). (edukasi.kompas.com/ Inggried Dwi Wedhaswary).